Arsip Blog

Jembatan Sardjito II Yogyakarta

Alhamdulillah, kabar gembira bagi warga Yogyakarta dan sekitarnya bahwa mulai sekarang ini jembatan yang selesai dibangun yaitu jembatan Sardjito II Yogyakarta sudah bisa dilewati kendaraan bermotor meskipun baru satu jalur yang diperbolehkan. Artinya, bila Anda ingin menuju ke sekitar jalan Kaliurang atau ke kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) dari arah barat maka tidak perlu memutar ke Jetis (jalan A.M. Sangaji) dulu. Begitu juga dari arah utara tidak perlu melintasi tembusan jalan kecil searah selokan Mataram yang lumayan sulit dilalui kalau menggunakan mobil. Jadi, hal ini akan menghemat waktu perjalanan Anda dan tentu saja menghemat bensin.

Lokasi jembatan Sardjito II ini terletak di sebelah utara Kampus Fakultas Teknik UGM tepatnya pada ruas jalan baru yang menghubungkan jalan Kaliurang (Kampus UGM) dengan jalan Nyi Condro Kirono Lukito (Monjali). Jembatan ini bediri dengan gagah di atas Kali Code yang membelah kota Yogyakarta dari utara ke selatan. Ada yang bilang jembatan ini bernama Jembatan Pendekat UGM dan ada juga yang bilang Jembatan Sardjito II. Saya tidak tahu mana yang benar. Yang jelas kita akan segera tahu kalau jembatannya sudah diresmikan. Berikut peta lokasinya.

Lihat lebih lengkap

Perjalanan: Wanita Itu…

Hari Kamis 9 Oktober pukul 10.30 tepat kereta yang dinanti-nanti akhirnya datang juga. Kereta yang akan membawa saya kembali ke Yogyakarta setelah liburan panjang di kampung halaman. Cirebon, itulah kampung halaman saya. Kota di mana saya dilahirkan, dibesarkan dan disekolahkan hingga seperti sekarang ini. Kota yang mendadak terkenal hanya pada saat menjelang lebaran dan beberapa hari setelahnya. Sejumlah stasiun televisi seakan berlomba tak mau kalah menyiarkan kejadian langsung situasi dan kondisi terkini arus lalu lintas di sana. Tak peduli dengan seringai udara panasnya.

Seharusnya kereta tiba satu jam yang lalu. Ah, terlambat adalah kata yang sudah tidak tabu lagi bagi saya dan mungkin para penumpang yang lain. Jadi teringat anekdot klasik tentang keterlambatan kereta ini. Ada calon penumpang yang kesal karena setiap kereta yang akan dia tumpangi selalu terlambat. Lalu dia protes ke masinis, “Kalau keretanya terlambat terus mendingan Anda tidak usah kasih jadwal keberangkatan karena tidak ada gunanya!”. Dengan santai sang masinis menjawab, “Pak, kalau nggak ada jadwal kedatangan kereta bagaimana kita tahu bahwa keretanya datang terlambat?”. Ada cerita lainnya. Penumpang di stasiun sedang dibuat gundah gulana. Bagaimana tidak, kereta sering datang terlambat satu jam, dua jam, bahkan sampai lima jam. Tapi pada suatu hari kereta yang akan mereka tumpangi ternyata datangnya tepat sesuai dengan jadwal. Sontak penumpang pada kegirangan. Ketika ditanyakan kepada masinis kok tumben tepat waktu, sang masinis berkata sambil malu-malu, “Maaf, ini kereta kemarin”. Itulah salah satu potret kelam dunia perkeretaapian Indonesia.

Kemudian,

Belajar Islam Gratis, Dapat Uang Saku+Laptop, Mau??

Universitas Al-Madinah Internasional (Al-Madinah International University, MEDIU) adalah universitas islam virtual pertama di dunia, yang dicetuskan oleh para ulama di timur tengah. Dengan dilatar belakangi oleh sulitnya kesempatan menuntut ilmu ke kota Nabi, yaitu di Madinah Al-Nabawiyah. Sehingga para ulama memiliki gagasan untuk mengantarkan khazanah ilmiah warisan para nabi keseluruh penjuru dunia, agar semakin banyak orang yang dapat mempelajarinya.

Dengan sistem pembelajaran yang menggabungkan antara sistem kelas virtual dan sistem klasikal berupa tatap muka secara langsung dengan pengajar, diharapkan lulusan MEDIU ini akan memiliki kualifikasi yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan ummat akan thalibul ilmi yang akan memenuhi dunia ini dengan nuansa kesejukan dari syariat Allah Subhanahu wata’ala.

Berikutnya

Yogyakarta, Kota Sejuta Motor

Pukul 20.30 malam jalan Kaliurang, saya menyusuri jalan itu dengan bersepeda. Suasananya sangat ramai dengan mahasiswa yang hendak mencari sesuap nasi (makan malam -pen). Lalu lintasnya sedang padat-padatnya, jadi susah kalau mau nyebrang di jalan Kaliurang.

Saat mengayuh, tiba-tiba seseorang bersepeda menyapa dari belakang. Hanya berupa sapaan ringan: “Ayo mas…”. Singkat namun berkesan karena ternyata yang menyapa bukanlah teman atau tetangga saya di kampung, melainkan orang barat alias bule. Entah dia itu turis atau bule nyasar, yang jelas setelah itu saya sadar kalau kami berdua satu-satunya eh dua-duanya yang bersepeda di antara raungan kendaraan bermotor yang berseliweran melintasi jalan Kaliurang pada malam itu.

Apa yang membuat si bule menyapa saya ya? Apakah karena kasihan melihat saya menaiki sepeda yang butut? Apa karena ada teman bersepeda? Atau ngajak balapan? Jelas saya yang kalah lha wong dia pake sepeda gunung yang apik kok. Jadi, apapun motifnya, saya mencoba mengambil kesimpulan sebuah fakta bahwa lalu lintas di kota Yogyakarta sudah didominasi oleh kendaraan bermotor terutama sepeda motor. Read the rest of this entry