Arsip Blog

Prinsip Kerja dan Etika Usaha dalam Islam

Seorang pekerja atau pengusaha muslim dalam melakukan berbagai aktivitas usaha harus selalu bersandar dan berpegang teguh pada dasar dan prinsip berikut ini:

Pertama, seorang muslim harus bekerja dengan niat yang ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena dalam kacamata syariat, bekerja hanyalah untuk menegakkan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar terhindar dari hal-hal yang diharamkan dan dalam rangka memelihara diri dari sifat-sifat yang tidak baik, seperti meminta-minta atau menjadi beban orang lain. Bekerja juga bisa menjadi sarana untuk berbuat baik kepada orang lain dengan cara ikut andil membangun ummat di masa sekarang dan masa yang akan datang, serta melepaskan ummat dari belenggu ketergantungan kepada ummat lain dan jeratan transaksi haram.

Kedua, seorang muslim dalam usaha harus berhias diri dengan akhlak mulia, seperti: sikap jujur, amanah, menepati janji, menunaikan hutang dan membayar hutang dengan baik, memberi kelonggaran orang yang sedang mengalami kesulitan membayar hutang, menghindari sikap menangguhkan pembayaran hutang, tamak, menipu, kolusi, melakukan pungli (pungutan liar), menyuap dan memanipulasi atau yang sejenisnya.

Ketiga, seorang muslim harus bekerja dalam hal-hal yang baik dan usaha yang halal. Sehingga dalam pandangan seorang pekerja dan pengusaha muslim, tidak akan sama antara proyek dunia dengan proyek akherat. Baginya tidak akan sama antara yang baik dan yang buruk atau antara yang halal dan haram, meskipun hal yang buruk itu menarik hati dan menggiurkan karena besarnya keuntungan materi yang didapat. Ia akan selalu menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, bahkan hanya berusaha mencari rizki sebatas yang dibolehkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.

Baca selanjutnya

Meneladani Generasi Salaf dalam Bekerja

Apabila.kita mencermati kehidupan para ulama dan Imam sunnah, mereka telah memberikan contoh dan teladan sangat mulia dalam menyeimbangkan antara kepentingan mencari ilmu dan mencari nafkah. Bahkan setiap para nabi dan rasul berusaha dan berkarya untuk menopang kelangsungan dalam menyebarkan risalah dan dakwah. Nabi Zakaria menjadi tukang kayu, Nabi Idris menjahit pakaian dan Nabi Daud membuat baju perang, sehingga bekerja untuk bisa hidup mandiri merupakan sunnah para utusan Allah. Maka berusaha untuk mencari nafkah baik dengan berniaga, bertani dan berternak tidak dianggap menjatuhkan martabat dan tidak bertentangan dengan sikap tawakal. [1]

Inilah yang difahami oleh para utusan Allah dan para ulama salaf sehingga mereka tergolong orang-orang yang rajin bekerja dan ulet dalam berusaha namun mereka juga gigih dan tangguh dalam menuntut ilmu dan menyebarkan agama. Tidak mengapa seorang bekerja di bidang dakwah dan urusan kaum muslimin lalu mendapat imbalan dari pekerjaan tersebut, karena Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu ketika menjadi Khalifah mencukupi kebutuhan hidup keluarganya dari baitul mal. Ibnu Sa’ad meriwayatkan bahwa ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menjadi khalifah setiap pagi pergi ke pasar memanggul beberapa helai pakaian untuk dijual, lalu beliau bertemu dengan Umar dan Ubaidah bin Jarrah radhiyallahu ‘anhum, maka mereka berkata: “Bagaimana kamu berdagang sementara kamu menjadi pemimpin kaum muslimin?” maka beliau berkata: “Dari mana aku menghidupi keluargaku?” Mereka menjawab: “Kalau begitu kami akan menjatahkanmu setiap hari separuh kambing dari harta baitul mal.” [2]

Baca selanjutnya

Tips Mengatasi Rasa Bosan dalam Bekerja

Adanya rasa bosan dan tidak dapat menikmati perkerjaan adalah hal yang wajar dalam kehidupan manusia. Tentu kita bisa bayangkan, seorang karyawan, misalnya, rata-rata ia menghabiskan waktu delapan jam sehari berkutat dengan perkerjaannya. Ini bukan waktu yang singkat, apalagi bila kita menjadikan pekerjaan sebagai beban berat. Akibatnya, perasaan sedih, tidak bersemangat, dan mengantuk lebih sering muncul sebagai tanda kebosanan mulai datang.

Rasa bosan dengan pekerjaan ini disebabkan antara lain adanya sifat monoton dalam pekerjaan tersebut sehingga tidak menarik dan menantang, lingkungan kerja yang tidak kondusif atau terasa ‘tidak hidup’, tidak memiliki otonomi dalam pekerjaan yang dilakukan sehingga tidak dapat melakukan sentuhan pribadi di dalamnya, tidak mencintai dan tidak menganggap penting pekerjaan tersebut, bahkan hanya sekedar duduk-duduk tanpa melakukan pekerjaan apa pun dapat menimbulkan rasa bosan ini.

Meskipun rasa bosan ini wajar dialami, Anda harus tetap pandai menyiasati agar hal ini tidak berlarut-larut dan menghambat produktivitas kerja. Ada beberapa kiat yang dapat Anda coba untuk mengatasi rasa bosan Anda:
Selanjutnya