Arsip Blog

Titel MCP

Titel dalam bidang apa tuh? dari luar negri ya?? He..he.. ternyata itu kependekan dari Master of Copy Paste. Gelar yang akrab sekali melekat bagi mahasiswa atau pelajar untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah ataupun sekolah. Sekarang apa sih yang nggak bisa. Tinggal ketik WWW plus nama situs, kita bisa bermanja-manja mencari apa yang ingin kita dapat. Atau dengan menggunakan bantuan mesin pencari (search engine) semacam Google, Yahoo, Altavista dan lainnya, kita bisa dapatkan berjubel artikel yang kita cari. World Wide Web memang merupakan surga baru bagi kita-kita pengguna teknologi.

Lalu, apakah hanya di lingkungan kampus atau sekolah saja yang biasa seperti itu? Aksi copy-paste dalam dunia jurnalisme onlinepun cukup banyak bahkan sebagian blogger mendapatkan tema untuk postingannya nggak malu-malu ngopy paste dari blog lain. Coba saja kita nilai sendiri dan introspeksi. Saya, dan mungkin Anda-Anda juga sering melakukan ini dan sepantasnya dapat gelar MCP. Buktinya, saya dapat artikel ini dari http://kliksadat.blogspot.com dengan perubahan seperlunya, hehehehe… tapi tenang, saya sudah minta ijin sama si empunya. Selamat bergelar MCP.

Plentonk

Untuk kali pertamanya saya nulis postingan langsung di warnet, tadinya mau buka situs apa saya sendiri juga bingung, jadi ah mending nulis sesuatu buat nambah-nambah postingan blog. Biasanya saya ngetik dulu di komputer sendiri pake notepad, tapi sekarang saya mencoba biar terbiasa menulis dengan cepat. Apa yang ada di kepala langsung tak ketik, makanya hasilnya ya begini saja alias nggak jelas. But it’s no problem.

Oh iya kenalin nih nama warnetnya Plentonk baru launching awal-awal Februari lalu. Dari tanggal 6 – 15 Februari sejamnya cuma 1500 rupiah. Maklum lagi promosi. Setelah itu sejam jadi 2400 rupiah, yah lumayan murah buat warnet yang letaknya di pemukiman mahasiswa, apalagi PCnya baru and monitornya flat lagi. Udah gitu tempatnya bagus plus ada lampion-lampionnya juga. Kalau situ tinggal di sekitar Pogung Dalangan Yogyakarta, warnet ini bisa dijajal. Saya nulis ini nggak dibayar lho, saya cuma sekedar ngasih referensi aja kok.

Plentonk artinya apa sih? Di desktop monitor tertulis arti Plentonk, ‘Plentonk tuh artinya bola pijar, orang sekarang tuh sudah lupa plentonk dan pada lebih seneng pake neon tapi jaman dulu jaman listrik awalan plentonk adalah teman belajar yang mbantu kita jadi sedikit lebih pintar’. Ide penamaan warnetnya boleh juga, memang internet bisa bikin pinter. Tapi perasaan baru kali ini denger nama plentonk, apa benar artinya gitu ya?

Yogyakarta, Kota Sejuta Motor

Pukul 20.30 malam jalan Kaliurang, saya menyusuri jalan itu dengan bersepeda. Suasananya sangat ramai dengan mahasiswa yang hendak mencari sesuap nasi (makan malam -pen). Lalu lintasnya sedang padat-padatnya, jadi susah kalau mau nyebrang di jalan Kaliurang.

Saat mengayuh, tiba-tiba seseorang bersepeda menyapa dari belakang. Hanya berupa sapaan ringan: “Ayo mas…”. Singkat namun berkesan karena ternyata yang menyapa bukanlah teman atau tetangga saya di kampung, melainkan orang barat alias bule. Entah dia itu turis atau bule nyasar, yang jelas setelah itu saya sadar kalau kami berdua satu-satunya eh dua-duanya yang bersepeda di antara raungan kendaraan bermotor yang berseliweran melintasi jalan Kaliurang pada malam itu.

Apa yang membuat si bule menyapa saya ya? Apakah karena kasihan melihat saya menaiki sepeda yang butut? Apa karena ada teman bersepeda? Atau ngajak balapan? Jelas saya yang kalah lha wong dia pake sepeda gunung yang apik kok. Jadi, apapun motifnya, saya mencoba mengambil kesimpulan sebuah fakta bahwa lalu lintas di kota Yogyakarta sudah didominasi oleh kendaraan bermotor terutama sepeda motor. Read the rest of this entry

Kritik Untuk Sang Pengritik

Seorang koordinator mahasiswa berteriak-teriak di depan gedung kantor gubernur. Di belakangnya berjibun mahasiswa lain mengikuti instruksinya. Caci maki adalah kata-kata yang sering mereka perdengarkan kepada para polisi di depannya yang menghalangi demonstran agar tidak masuk area gedung. Aksi saling dorong tak terhindarkan lagi. Aksi yang tadinya ’damai’ berubah anarkis seiring tensi yang kian memanas antara kedua kubu, mahasiswa versus polisi.

Nun jauh dari keramaian tadi, di sebuah desa terpencil, sepasang suami istri separuh baya sedang sibuk menggarap lahan sawahnya. Peluh yang membasahi keningnya tidak mereka hiraukan. Justru menambah semangat mereka dalam bekerja. Hasil panen yang akan mereka peroleh kelak sebagian akan diberikan kepada putranya yang sekarang kuliah di universitas ternama. Membayangkan putra tercinta bisa kuliah sungguh membahagiakan keduanya karena dengan ekonomi yang pas-pasan, mereka dapat menyekolahkan anaknya bahkan hingga ke perguruan tinggi. Read the rest of this entry