Category Archives: Renungan

Mereka Berbakti Kepada Sang Ibu

Ibu adalah sosok wanita istimewa bagi seseorang. Seorang lelaki tak akan lahir ke bumi kalau tidak ada seorang wanita bernama ibu. Tanpa jengah oleh tuduhan ngawur kaum feminis yang menganggap Islam bersikap diskriminatif terhadap wanita, Islam sudah menekankan untuk menghormati dan memuliakan kaum wanita. Bagaimana berbakti kepada Ibu?

Sejarah hidup para ulama as Salaf bertabur dengan kisah-kisah bakti kepada sang ibu. Bila dicermati bahkan sikap mereka nyaris mustahil dilakukan oleh orang-orang biasa. Memang, mereka bukanlah manusia biasa. Kehidupan mereka sarat manikam hikmah yang sangat berharga untuk dijadikan sebagai butiran-butiran keteladanan.

Muhammad bin al-Mukandar menuturkan, “Saat saudaraku, Umar, sibuk menghabiskan malamnya untuk melakukan shalat, aku justru sibuk memijat-mijat kaki ibuku. Aku tidak rela seandainya malamku digantikan dengan malam seperti yang dia lakukan.”a

Shalat malam adalah ibadah yang penuh keutamaan, bahkan sebuah tradisi orang shalih. Berbakti kepada seorang ibu, ternyata melebihi nilai ibadah tersebut. Lebih-lebih bila atas permintaan sang ibu.

Read the rest of this entry

Meneladani Generasi Salaf dalam Bekerja

Apabila.kita mencermati kehidupan para ulama dan Imam sunnah, mereka telah memberikan contoh dan teladan sangat mulia dalam menyeimbangkan antara kepentingan mencari ilmu dan mencari nafkah. Bahkan setiap para nabi dan rasul berusaha dan berkarya untuk menopang kelangsungan dalam menyebarkan risalah dan dakwah. Nabi Zakaria menjadi tukang kayu, Nabi Idris menjahit pakaian dan Nabi Daud membuat baju perang, sehingga bekerja untuk bisa hidup mandiri merupakan sunnah para utusan Allah. Maka berusaha untuk mencari nafkah baik dengan berniaga, bertani dan berternak tidak dianggap menjatuhkan martabat dan tidak bertentangan dengan sikap tawakal. [1]

Inilah yang difahami oleh para utusan Allah dan para ulama salaf sehingga mereka tergolong orang-orang yang rajin bekerja dan ulet dalam berusaha namun mereka juga gigih dan tangguh dalam menuntut ilmu dan menyebarkan agama. Tidak mengapa seorang bekerja di bidang dakwah dan urusan kaum muslimin lalu mendapat imbalan dari pekerjaan tersebut, karena Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu ketika menjadi Khalifah mencukupi kebutuhan hidup keluarganya dari baitul mal. Ibnu Sa’ad meriwayatkan bahwa ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menjadi khalifah setiap pagi pergi ke pasar memanggul beberapa helai pakaian untuk dijual, lalu beliau bertemu dengan Umar dan Ubaidah bin Jarrah radhiyallahu ‘anhum, maka mereka berkata: “Bagaimana kamu berdagang sementara kamu menjadi pemimpin kaum muslimin?” maka beliau berkata: “Dari mana aku menghidupi keluargaku?” Mereka menjawab: “Kalau begitu kami akan menjatahkanmu setiap hari separuh kambing dari harta baitul mal.” [2]

Baca selanjutnya

Akankah Kematian Itu Indah?

Mati adalah kata yang tidak disukai oleh kebanyakan orang, banyak yang menghindar. Tentunya kematian itu sendiri lebih begitu ditakuti. Tidak hanya oleh manusia, binatang pun takut mati. Seakan-akan tidak ada yang sudi mati.

Wajar kalau manusia takut mati, sebab mati berarti berpisah dari segala yang dimiliki dan senangi, berpisah dari segala yang disayangi dan dicintai. Berpisah dari anak dan istri serta kekasih. Berpisah dari bapak dan ibu, berpisah dari harta dan pangkat, berpisah dari dunia dan segala isinya. Sementara manusia memang mencintai dunia dan seisinya, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali Imran:14)

Nasib di akhirat yang belum jelas, sebagian bahkan tidak percaya tentangnya, membuat orang ingin selamanya hidup di dunia. Kenikmatan dunia yang tak sebanding dengan satu helai sayap nyamuk mampu membuat manusia mabuk.

Berikutnya

Marhaban Ya Ramadhan

Alhamdulillah, kita memuji hanya kepada Allah Ta’ala semata karena telah dipertemukan lagi dengan bulan Ramadhan yang penuh barakah ini. Rasanya baru kemarin kita bertemu dengan bulan tersebut. Waktu terasa begitu cepat. Semuanya berlalu dengan meninggalkan segala perbuatan yang kita lakukan. Perbuatan yang baik sama berlalunya dengan perbuatan jelek. Yang tersisa adalah pertanggungjawaban perbuatan kita tersebut kepada Allah Ta’ala. Melakukan ibadah itu capek, bermaksiat pun tidak kalah capeknya. Kalau sama-sama capek mengapa kita memilih capek yang mendatangkan murka Allah Ta’ala?

Melalui bulan yang merupakan ladang beramal ini, marilah kita hiasi setiap waktu yang Allah Ta’ala sediakan dengan melakukan kegiatan-kegiatan ibadah yang dapat menyelamatkan kita dari siksaNya. Janganlah kita menjadi orang yang merugi dan celaka. Merugi, apabila keadaan kita sebelum dan sewaktu puasa sama dengan hari biasanya. Celaka, bila keadaan kita pada saat berpuasa di bulan Ramadhan lebih parah dari hari biasa. Akankah kita sia-siakan waktu yang sedikit ini? Hanya kita sendiri yang bisa menjawabnya….

Semoga renungan yang singkat ini dapat membuka mata hati kita agar senantiasa diberi keistiqomahan dalam melaksanakan kewajiban yang Allah Ta’ala bebankan kepada kita. Amiin.

Selamat menunaikan ibadah puasa.