Category Archives: Kisah

Bagaikan Syannun dan Thabaqah

Judul di atas merupakan terjemahan bebas dari sebuah pepatah Arab yang berbunyi:

وافَقَ شَنٌّ طَبَقَة

Pepatah ini digunakan untuk mengumpamakan dua insan atau dua hal yang serasi dan sejoli. Sekilas memang terlihat seperti “Bagaikan Romi dan Yuli” atau “Bagaikan Romeo dan Juliet”, yaitu sepasang manusia yang memadu cinta (sebelum nikah) yang oleh karena perbedaan dan permusuhan di antara dua keluarga mereka, menyebabkan hubungan cinta mereka harus kandas di tengah jalan. Akhirnya, kisah cinta mereka diakhiri dengan bunuh diri (intihaar). Menyedihkan…. Kasihan …. Tragis….

Adapun Syannun dan Thabaqah … sangat jauh berbeda dengan 2 profil di atas. Penasaran? Berikut kisahnya:

Read the rest of this entry

Mereka Berbakti Kepada Sang Ibu

Ibu adalah sosok wanita istimewa bagi seseorang. Seorang lelaki tak akan lahir ke bumi kalau tidak ada seorang wanita bernama ibu. Tanpa jengah oleh tuduhan ngawur kaum feminis yang menganggap Islam bersikap diskriminatif terhadap wanita, Islam sudah menekankan untuk menghormati dan memuliakan kaum wanita. Bagaimana berbakti kepada Ibu?

Sejarah hidup para ulama as Salaf bertabur dengan kisah-kisah bakti kepada sang ibu. Bila dicermati bahkan sikap mereka nyaris mustahil dilakukan oleh orang-orang biasa. Memang, mereka bukanlah manusia biasa. Kehidupan mereka sarat manikam hikmah yang sangat berharga untuk dijadikan sebagai butiran-butiran keteladanan.

Muhammad bin al-Mukandar menuturkan, “Saat saudaraku, Umar, sibuk menghabiskan malamnya untuk melakukan shalat, aku justru sibuk memijat-mijat kaki ibuku. Aku tidak rela seandainya malamku digantikan dengan malam seperti yang dia lakukan.”a

Shalat malam adalah ibadah yang penuh keutamaan, bahkan sebuah tradisi orang shalih. Berbakti kepada seorang ibu, ternyata melebihi nilai ibadah tersebut. Lebih-lebih bila atas permintaan sang ibu.

Read the rest of this entry

Mencari Hati yang Hilang

Seorang ahli ibadah sedang dilanda keresahan hati. Hatinya tidak seteduh dulu lagi. Ada sesuatu yang hilang namun ia tidak mengetahuinya. Tidaklah itu terjadi kecuali setelah ia melakukan pembangkangan terhadap Penciptanya. Dengan perasaan bingung ia berjalan memasuki gang satu ke gang lainnya di sudut suatu kota hendak mencari hati yang hilang tersebut. Dengan langkah gontai dia bersya’ir sendu,

Ya Rabb,
dimanakah hatiku?
kemanakah hati yang dulu singgah menenteramkan jiwaku?
kemana ia pergi setelah durhaka kulakukan?
kemana hendak aku cari?
sungguh hati itu lebih aku butuhkan dari sekedar makan dan minum
Ya Rabb, pertemukan aku dengannya…

Nyaris ia putus asa hingga sesampainya di sebuah gang, ahli ibadah tersebut mendengar suara kegaduhan dari dalam suatu rumah. Ternyata ada seorang ibu sedang memarahi anak perempuannya yang masih kecil. “Wahai anak durhaka! Celakalah kamu, ibumu ini sudah kehabisan akal menghadapi anak pembangkang macam kamu, enyahlah dari rumahku!!” hardik sang ibu sambil membanting pintu sekeras-kerasnya. Ahli ibadah melihat mereka dengan seksama dari kejauhan. Read more

Surat Ibu kepada Putranya

Assalamu’alaikum,

Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amin…

Wahai anakku,

Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka…

Wahai anakku!

Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak! Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas ini lalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati dan telah engkau robek pula perasaanku. Baca selanjutnya…