Bagaikan Syannun dan Thabaqah

Judul di atas merupakan terjemahan bebas dari sebuah pepatah Arab yang berbunyi:

وافَقَ شَنٌّ طَبَقَة

Pepatah ini digunakan untuk mengumpamakan dua insan atau dua hal yang serasi dan sejoli. Sekilas memang terlihat seperti “Bagaikan Romi dan Yuli” atau “Bagaikan Romeo dan Juliet”, yaitu sepasang manusia yang memadu cinta (sebelum nikah) yang oleh karena perbedaan dan permusuhan di antara dua keluarga mereka, menyebabkan hubungan cinta mereka harus kandas di tengah jalan. Akhirnya, kisah cinta mereka diakhiri dengan bunuh diri (intihaar). Menyedihkan…. Kasihan …. Tragis….

Adapun Syannun dan Thabaqah … sangat jauh berbeda dengan 2 profil di atas. Penasaran? Berikut kisahnya:

Syannun adalah seorang pemuda Arab yang cerdas. Suatu hari ia berkata, “Demi Allah, aku akan mencari wanita yang cerdas yang cocok denganku untuk kujadikan sebagai istriku.” Maka untanya pun disiapkan dan berangkatlah ia memulai petualangan mencari sang calon istri. Selang beberapa waktu lamanya, di tengah jalan ia bertemu dengan seseorang yang mengendarai unta. Ternyata orang tersebut menuju arah perjalananan yang sama dengan Syannun. Syannun pun berkata kepadanya,

أتحملني أم أحملك ؟

“Anda yang bawa saya atau saya yang bawa Anda ?” Orang itu berkata, “Wahai orang bodoh, saya naik unta, Anda naik unta. Apa maksud kamu, “Saya yang bawa Anda atau Anda yang bawa saya”?

Syannun diam saja. Perjalanan pun dilanjutkan kembali. Kali ini Syannun tidak sendirian. Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah tempat di pinggir desa. Di tempat itu, mereka melihat banyak ladang (gandum -pen). Ladang-ladang tersebut baru saja selesai panen.
Syannun bertanya,

أترى هذا الزّرْعَ أُكِل أم لا ؟

“Tahukah Anda, hasil panennya sudah dimakan atau belum?”

Orang itu berkata, “Wahai orang bodoh, engkau lihat baru saja panen, lalu engkau bertanya sudah dimakan atau belum?!

Syannun diam saja. Mereka pun terus berjalan sampai akhirnya masuk ke desa tersebut. Ternyata di jalan ada iringan jenazah. Mereka berhenti sejenak. Setelah iringan jenazah itu lewat, Syannun bertanya kepada temannya,

أترى صاحبَ هذا النّعْشِ حيّاً أو مَيِّتاً ؟

“Apa pendapatmu, orang yang berada di atas keranda itu hidup atau mati?” Orang itu menjawab, “Aku belum pernah melihat orang sebodoh kamu. Kamu melihat jenazah, lantas bertanya apakah ia sudah mati atau masih hidup?!”

Syannun diam saja. Tidak lama kemudian, ketika Syannun hendak berpisah, orang tersebut keberatan sebelum Syannun mampir ke rumahnya. Akhirnya, tibalah mereka berdua di rumah orang itu. Setelah mempersilahkan Syannun masuk ke ruang tamu, orang itu menuju ke ruangan keluarganya. Orang itu ternyata memiliki seorang putri, namanya Thabaqah. Sang putri menanyakan perihal tamu ayahnya. Ayahnya pun menjelaskan bahwa ia teman dalam perjalanan. Hanya saja orangnya sangat bodoh. Sang Ayah bercerita apa yang terjadi selama dalam perjalanan. Setelah mendengar cerita dari ayahnya, sang putri berkomentar, “Wahai Ayahanda, itu bukan bodoh. Maksudnya “Saya yang bawa Anda atau Anda yang bawa saya?” adalah “Saya yang bercerita kepada Anda atau Anda yang bercerita kepada saya?” supaya perjalanan tidak terasa melelahkan.” Adapun perkataannya “Tahukah Anda, hasil panennya sudah dimakan atau belum?” adalah “Apakah yang punya ladang telah menjual panennya lalu memakan hasil penjualannya atau belum?”. Sedangkan maksud dari “Apa pendapatmu, orang yang berada di atas keranda itu hidup atau mati” adalah “Apakah orang yang sudah mati itu meninggalkan sesuatu yang dapat menghidupkan namanya kembali atau tidak?. Setelah mendengar penjelasan dari putrinya tersebut, ia pun kembali menemui Syannun di ruang tamu. Setelah menyantap hidangan yang biasa dihidangkan untuk tamu, orang itu berkata kepada Syannun, “Apa kamu mau saya tafsirkan pertanyaan-pertanyaanmu tadi?” Syannun menjawab, “Silahkan.” Lalu orang itu mulai menafsirkan apa yang sebenarnya dimaksud oleh Syannun. Setelah mendengar tafsiran orang itu, Syannun berkomentar, “Saya yakin itu bukan berasal dari Anda. Katakan padaku siapa yang mengabarkan itu padamu?” Orang itu pun mengaku bahwa putrinyalah yang memberitahukan itu semua padanya. Selanjutnya (sudah bisa ditebak…, pucuk dicinta ulam pun tiba… -pen), Syannun pun melamar putri orang itu. (Diterjemahkan dengan sedikit perubahan dan penyesuaian dari cerita syaikh kami, Abdul Karim bin Sa’ad Al Huwaimil, kepada penulis di sela-sela waktu santai bersama beliau. Lihat pula Majma’u -l Amtsal karya Al Maidaani, Bab 26)

Ya memang cocok, Syannun dan Thabaqah. Akhirnya orang arab menjadikan kisah ini sebagai perumpamaan dua hal yang serasi. Waafaqa Syannun Thabaqah.

Faidah yang dapat dipetik dari perumpamaan ini:

  1. Semangat mencari pasangan yang serasi.
  2. Cara pandang seseorang terhadap sebuah fenomena menunjukkan tingkat kecerdasan dan berfikir orang tersebut.
  3. Hendaknya seseorang mengambil ibrah/pelajaran dari segala sesuatu yang ia lihat dan saksikan.

Wallaahu a’alam.

Ditulis oleh Abu Yazid Muhammad Nurdin

Sumber: milis salafi-jogja@googlegroups.com

Posted on 2 Juni 2009, in Kisah and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 12 Komentar.

  1. Sip, sip…😎
    Mangkanya mas, yang semangat yah.. Semangat, semangat!!:mrgreen:

  2. semoga segera menemukan Thabaqah😀

  3. Faidah yang dapat dipetik :
    1. Semangat mencari pasangan yang serasi.

    Chayoo mas herr…:mrgreen:

  4. Sadat ar Rayyan

    Ayo kita berjuang.. Lanjutkan:mrgreen:
    *meh posting iki. kedhisikan. yo ra sido😀

  5. keren ya critanya..
    bener2 luas tuh pandangannya
    klo saia c sama kaya bapaknya thabaqah itu…
    huehehehe

  6. Cara pandang seseorang terhadap sebuah fenomena menunjukkan tingkat kecerdasan dan berfikirnya di samping juga menunjukkan pendekatan yang dipakainya. Setidaknya, ada dua pendekatan yang sering dipakai yaitu irfani dan burhani. Yang pertama dipakai para sufi, sedang yang kedua kita yang memakai, karena kita hanyalah syannuni

  7. karena kita hanyalah kawan syannun dalam perjalanannya

  8. annisa febrianita

    kisah yang sangat menarik. Mencari jodoh yang sholeh menjadi harapan yang slalu nisa inginkan, tentu bukan saja nisa tapi setiap muslimah. alangkah beruntungnya jika Alloh mengtakdirkannya. tapi nisa selalu yakin Tuhan menciptakan manusia berpasang pasangan. Smoga alloh menjadikan aku wanita yang pandai bersyukur dan reda atas ketentuannya. ameen,insyaAlloh.

    jazakalloh untuk artikelnya.

  9. Akhi, apakah ini kisah nyata, atau bagaimana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: