Potret Kehidupan Salaf dalam Menyayangi Binatang

Setiap kebaikan adalah dengan mengikuti generasi para salaf. Para pendahulu kita dari generasi pertama umat ini telah mencontohkan bagaimana semestinya menyayangi binatang. Hal ini berbeda jauh dengan kebiasaan orang kafir barat yang berlebihan dalam menyayangi binatang.

Bukankah kita lihat bersama bahwa orang kafir lebih senang memandikan anjing piaraannya, disisir rambutnya dan diajak jalan-jalan ketimbang memandikan dan berjalan-jalan bersama anaknya sendiri!? Ini baru contoh kecil yang kita lihat. Maka berikut ini dinukilkan perikehidupan para salaf dalam menyayangi binatang, bagaimana sikap yang benar terhadap binatang, tidak berlebihan dan tidak pula merendahkan.

‘Abdullah bin Ja’far berkata: “Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam pernah masuk ke sebuah kebun milik seorang Anshar. Tiba-tiba beliau mendapati seekor unta ada di sana. Melihat Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam datang, unta tersebut terharu dan menangis. Nabi pun menghampiri kemudian membelai kepala dan punuknya, sejenak unta tersebut terlihat diam dan tenang. Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam lantas bertanya: “Milik siapa unta ini?” Datanglah seorang pemuda Anshar dan berkata: “Milik saya wahai Rasulullah.” Rasulullah pun menasehatinya: “Tidakkah kamu takut kepada Allah terhadap binatang yang telah dijinakkan untukmu? Lihat unta ini mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya lapar dan lelah.” (HR. Abu Dawud, Hakim, Ahmad)

‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: Kami pernah bepergian bersama Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam. Saat Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam sedang menunaikan hajatnya, terlihat seekor burung kecil berwarna merah dan di sisinya ada seekor anak burung yang baru menetas. Lantas kami mengambil anak burung itu. Tiba-tiba burung kecil yang berwarna merah datang seraya mengepak-ngepakkan sayapnya dan bersuara. Sejurus kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam datang dan bertanya: “Siapa yang telah membuat sedih burung ini dengan mengambil anaknya? Kembalikanlah anak itu kepadanya.” (HR. Abu Dawud, Bukhari)

Ada seekor anjing sedang berada di sekitar sumur air. Anjing itu hampir mati karena kehausan. Tidak jauh dari sumur, ada seorang wanita pezina dari kalangan Bani ‘Israil. Lantas dengan sigap wanita itu pun melepas sepatunya dan mengambil air dari sumur, kemudian meminumkan air itu kepada anjing tersebut. Akhirnya wanita tersebut diampuni Allah dengan sebab perbuatannya. (HR. Bukhari, Muslim)

Mu’awiyah bin Qurrah berkata: Abu Darda’ mempunyai seekor unta yang bernama Dumun. Apabila ada orang yang hendak meminjam unta tersebut, tidak lupa Abu Darda’ berpesan kepada peminjam: “Jangan kalian bebankan ia kecuali ini dan itu, sesungguhnya unta ini tidak kuat membawa barang lebih banyak dari itu.” Tatkala unta itu akan mati, Abu Darda’ berkata kepada untanya: “Wahai Dumun, kamu jangan menuntutku besok pada hari kiamat di sisi Allah, karena aku tidak pernah membawakan barang kecuali yang engkau sanggupi!”

Syaikh Al Albani rahimahullahu berkata: “Inilah sebagian atsar-atsar yang bisa aku dapati hinga kini. Hal ini menunjukkan dalamnya pemahaman kaum muslimin generasi pertama terhadap bimbingan dan arahan Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam untuk berlaku lebut kepada binatang. Berbeda dengan sangkaan sebagian orang bodoh terhadap Islam yang menyatakan bahwa orang kafir Eropalah yang pertama kali mengajarkan lemah lembut kepada binatang. Bahkan yang benar, orang kafir itulah yang mencomot adab ini dari Islam, mereka mengembangkan, mengatur dan menjadikan aturan negara, hingga berlaku lembut kepada binatang seolah-olah keistimewaan mereka?! Mereka telah tertipu, sebenarnya peraturan semacam ini masih diterapkan pada sebagian negeri Islam dan memang kaum musliminlah yang berhak akan hal itu.” (ash-Shahihah I/69)

Sumber: Majalah Al Furqon Edisi 11 Tahun V/Jumada Tsaniyyah 1427 H

Posted on 3 Juli 2008, in Spiritual and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Ada seekor anjing sedang berada di sekitar sumur air. Anjing itu hampir mati karena kehausan. Tidak jauh dari sumur, ada seorang wanita pezina dari kalangan Bani ‘Israil. Lantas dengan sigap wanita itu pun melepas sepatunya dan mengambil air dari sumur, kemudian meminumkan air itu kepada anjing tersebut. Akhirnya wanita tersebut diampuni Allah dengan sebab perbuatannya. (HR. Bukhari, Muslim)

    sUBHANALLAHU… Akhi, antum mengingatkan saya agar selalu berbuat baik kepada binatang. Jangankan orang baik, bahkan wanita pezina-pun jika berbuat baik kepada binatang, maka dia akan masuk surga…

    Barakallahu fiik ya akhuna fillah…

  2. jazakallah khoir…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: