Mencari Hati yang Hilang

Seorang ahli ibadah sedang dilanda keresahan hati. Hatinya tidak seteduh dulu lagi. Ada sesuatu yang hilang namun ia tidak mengetahuinya. Tidaklah itu terjadi kecuali setelah ia melakukan pembangkangan terhadap Penciptanya. Dengan perasaan bingung ia berjalan memasuki gang satu ke gang lainnya di sudut suatu kota hendak mencari hati yang hilang tersebut. Dengan langkah gontai dia bersya’ir sendu,

Ya Rabb,
dimanakah hatiku?
kemanakah hati yang dulu singgah menenteramkan jiwaku?
kemana ia pergi setelah durhaka kulakukan?
kemana hendak aku cari?
sungguh hati itu lebih aku butuhkan dari sekedar makan dan minum
Ya Rabb, pertemukan aku dengannya…

Nyaris ia putus asa hingga sesampainya di sebuah gang, ahli ibadah tersebut mendengar suara kegaduhan dari dalam suatu rumah. Ternyata ada seorang ibu sedang memarahi anak perempuannya yang masih kecil. “Wahai anak durhaka! Celakalah kamu, ibumu ini sudah kehabisan akal menghadapi anak pembangkang macam kamu, enyahlah dari rumahku!!” hardik sang ibu sambil membanting pintu sekeras-kerasnya. Ahli ibadah melihat mereka dengan seksama dari kejauhan.

Si anak benar-benar diusir oleh ibunya. Lalu dia meninggalkan rumah seorang diri diiringi tangis dan derai air mata. Namun hendak kemana ia tuju, sedangkan sanak saudara yang lain tidak punya? Dia bingung, didatanginya setiap rumah namun dia urungkan karena tidak kenal satu pun pemilik rumah.

Maka si anak kembali lagi ke rumah ibunya. Sesampainya di depan pintu dia duduk bersimpuh, diletakkannnya pipinya yang basah di tanah lalu dia berkata dengan lirih, “Wahai ibuku, hendak kemana lagi aku mengadu selain kepada engkau? Engkaulah pelindungku disaat aku membutuhkan perlindungan. Engkaulah matahariku disaat aku memerlukan cahaya. Wahai ibuku, maafkanlah diriku yang telah berbuat kesalahan kepada engkau. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi….”

Dari dalam rumah, sang ibu mendengarkan perkataan anaknya tadi. Hatinya terenyuh melihat kondisinya yang sangat menyedihkan. Dia hampiri anaknya kemudian dipeluknya erat-erat sambil berkata, “Wahai anakku, hati mana yang tidak luluh ketika mendengar ucapan tulusmu itu. Hati mana yang tidak tersentuh ketika melihat buah hatinya menangis pilu. Nak, ibu sekarang memaafkanmu. Ibu akan melupakan semua kesalahanmu padaku…”

Melihat kejadian tersebut ahli ibadah terkesima. Pikirannya terbuka. Apa yang ia cari telah ia temukan. Wajahnya yang kuyu mendadak cemerlang seketika.

Bagaimana ahli ibadah tersebut dapat mengambil pelajaran dari apa yang ia lihat dan ia dengarkan?

Posted on 14 Februari 2008, in Kisah, Renungan and tagged , , . Bookmark the permalink. 11 Komentar.

  1. sebenarnya ketika dilanda gundah gulana dan resah… tiada pelarian yang “pantas” selain bersujud dan menghadap sang illahi….

    kesejukan dan ketrentaman hati bakal tercipta dengan sendirinya

  2. “Yaa muqallibal quluub, tsabit qalbii ‘aladdiinik…Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas jalan agama-Mu”

  3. @alfaroby
    syukron jiddan atas masukannya dan kunjungannya

    @sadat ar rayyan
    amin…

    @hyorinmaru
    klo saya mah tiap hari resah mikirin skripsi dan jodohnya siapa *duh pusiing…

  4. OOT
    Waktu dulu saya buwat skripsi, emang pusing sih. Tapi saya berusaha tenang n berprinsip, (naskah & coding) tiap hari harus ada kemajuan walau hanya satu baris🙂

  5. jadi ingat lagunya Opick Hanya dengan mengingat Allah hati kan menjadi tenang

  6. @oliveoile
    syukron mbak atas tipsnya, boleh dicoba…

    @evanrama
    ingat akan nama dan sifatNya yang sempurna karena kebesaranNya terutama Al Ghafar yang membuat hati kita tenang dan tidak beputus asa dari ampunanNya

  7. Wah jan, terenyuh banget aku..
    emang gitu..dengan taubat nasuha qt merasa tenangggggg…
    Keep writing bro:D

  8. iya, hati yang resah memang hanya sembuh dengan mengingatNya,
    wah,, jadi ngingetin aku juga,😉

  9. assalamualaikum;
    subbahanallah mas bagus sekali isi nya
    ane pek sejuk perasaan nya , thank’s ya mas..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: