Kritik Untuk Sang Pengritik

Seorang koordinator mahasiswa berteriak-teriak di depan gedung kantor gubernur. Di belakangnya berjibun mahasiswa lain mengikuti instruksinya. Caci maki adalah kata-kata yang sering mereka perdengarkan kepada para polisi di depannya yang menghalangi demonstran agar tidak masuk area gedung. Aksi saling dorong tak terhindarkan lagi. Aksi yang tadinya ’damai’ berubah anarkis seiring tensi yang kian memanas antara kedua kubu, mahasiswa versus polisi.

Nun jauh dari keramaian tadi, di sebuah desa terpencil, sepasang suami istri separuh baya sedang sibuk menggarap lahan sawahnya. Peluh yang membasahi keningnya tidak mereka hiraukan. Justru menambah semangat mereka dalam bekerja. Hasil panen yang akan mereka peroleh kelak sebagian akan diberikan kepada putranya yang sekarang kuliah di universitas ternama. Membayangkan putra tercinta bisa kuliah sungguh membahagiakan keduanya karena dengan ekonomi yang pas-pasan, mereka dapat menyekolahkan anaknya bahkan hingga ke perguruan tinggi.

Sementara itu, tidak jauh dari tempat demonstrasi, penumpang mobil angkot (angkutan perkotaan) mengeluh. Seorang ibu tampak gelisah ingin segera tiba ke rumahnya karena anaknya belum diberi susu. Laki-laki berseragam sekolah khawatir kalau terlambat datang ke sekolah, gurunya akan marah dan menyetrapnya. Sang supir angkot pun tak mau ketinggalan, dalam hatinya mengutuk-ngutuk karena mobilnya berjalan seperti siput (baca: macet). Bagaimana bayar setorannya? mungkin itu yang ada dalam pikirannya.

Wahai orang yang sok pemberani, suka mengeritik orang lain padahal dirinya sendiri sangat pantas untuk dikritik. Coba lihatlah disekeliling Anda barang sebentar saja. Berapa banyak manusia yang mengeluh karena kelakuan Anda. Tidak perdulikah Anda dengan keluhannya, kerugian yang dideritanya, padahal Anda mengklaim diri Anda sendiri bahwa Anda adalah orang yang perduli. Buktinya Anda memprotes kebijakan gubernur yang merugikan rakyat, menuntut agar gubernur segera turun jabatan, berupaya menggantikannya dengan yang lebih baik dan bersih. Bukankah itu namanya perduli? Ya, perduli menurut versi Anda. Ironis memang.

Apakah Anda tidak kasihan dengan orang tua Anda yang sudah bekerja hingga memeras keringat demi keberhasilan study Anda? Saya tidak yakin orang yang suka demonstrasi seperti Anda berprestasi di kampusnya. Jika memang Anda berprestasi, tentu tempat Anda sekarang adalah di dalam kelas bergelut dengan buku-buku tebal, bukan malah berkoar-koar di jalanan. Lakukanlah hal yang bermanfaat tanpa menyakiti perasaan orang lain. Sungguh suatu perbuatan dikatakan mulia apabila yang dilakukannya itu tidak seberapa namun bermanfaat bagi orang lain. Mari kita bersama-sama menjadi orang yang mulia.

Posted on 2 Oktober 2007, in Opini and tagged , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. DOSA SANG PENGKRITIK

    dosa kamu :
    1. kamu tidak pernah belajar pada sejarah kelahiran alam yang ada karena pertentangan / kontradiksi sosial
    2. POLA berpikir mu adala pola mapan yang kayaknya kamu hidup dari bapak yang mendapatkan uang dari hasil menindas ; sopir yang tadi tidak bisa nyetor, ibu yang tadi ga bisa beli susu, murid yang terlambat sekolah karena pagi2 harus kerja , dll
    huahuahuauauuaua
    PENDOSA kok bicara DOSA!!!
    kalo kamu cerdas aku akui…paling gak kalo ngeliat tulisanmu kayaknya kamu cukup cerdas untuk jadi penindas yang selalu akan menyalahkan korban. hahahahaha

  2. tenang mas, bicaramu itu penuh amarah dan kebencian, kalau ingin berdiskusi, diskusikan dengan baik.

    tunjukkan diri anda kalau anda bukan orang yang pengecut!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: