h e r r

why make it difficult if we can make it easy

Archive for the ‘Kisah’ Category

Bagaikan Syannun dan Thabaqah

with 9 comments

Judul di atas merupakan terjemahan bebas dari sebuah pepatah Arab yang berbunyi:

وافَقَ شَنٌّ طَبَقَة

Pepatah ini digunakan untuk mengumpamakan dua insan atau dua hal yang serasi dan sejoli. Sekilas memang terlihat seperti “Bagaikan Romi dan Yuli” atau “Bagaikan Romeo dan Juliet”, yaitu sepasang manusia yang memadu cinta (sebelum nikah) yang oleh karena perbedaan dan permusuhan di antara dua keluarga mereka, menyebabkan hubungan cinta mereka harus kandas di tengah jalan. Akhirnya, kisah cinta mereka diakhiri dengan bunuh diri (intihaar). Menyedihkan…. Kasihan …. Tragis….

Adapun Syannun dan Thabaqah … sangat jauh berbeda dengan 2 profil di atas. Penasaran? Berikut kisahnya:

Baca entri selengkapnya »

Written by herr

2 Juni 2009 at 8:51 am

Ditulis dalam Kisah

Ditandai dengan , , , , , ,

Mereka Berbakti Kepada Sang Ibu

with 6 comments

Ibu adalah sosok wanita istimewa bagi seseorang. Seorang lelaki tak akan lahir ke bumi kalau tidak ada seorang wanita bernama ibu. Tanpa jengah oleh tuduhan ngawur kaum feminis yang menganggap Islam bersikap diskriminatif terhadap wanita, Islam sudah menekankan untuk menghormati dan memuliakan kaum wanita. Bagaimana berbakti kepada Ibu?

Sejarah hidup para ulama as Salaf bertabur dengan kisah-kisah bakti kepada sang ibu. Bila dicermati bahkan sikap mereka nyaris mustahil dilakukan oleh orang-orang biasa. Memang, mereka bukanlah manusia biasa. Kehidupan mereka sarat manikam hikmah yang sangat berharga untuk dijadikan sebagai butiran-butiran keteladanan.

Muhammad bin al-Mukandar menuturkan, “Saat saudaraku, Umar, sibuk menghabiskan malamnya untuk melakukan shalat, aku justru sibuk memijat-mijat kaki ibuku. Aku tidak rela seandainya malamku digantikan dengan malam seperti yang dia lakukan.”a

Shalat malam adalah ibadah yang penuh keutamaan, bahkan sebuah tradisi orang shalih. Berbakti kepada seorang ibu, ternyata melebihi nilai ibadah tersebut. Lebih-lebih bila atas permintaan sang ibu.

Baca entri selengkapnya »

Written by herr

1 Maret 2009 at 12:46 pm

Ditulis dalam Kisah, Renungan

Ditandai dengan , , , , , ,

Mencari Hati yang Hilang

with 11 comments

Seorang ahli ibadah sedang dilanda keresahan hati. Hatinya tidak seteduh dulu lagi. Ada sesuatu yang hilang namun ia tidak mengetahuinya. Tidaklah itu terjadi kecuali setelah ia melakukan pembangkangan terhadap Penciptanya. Dengan perasaan bingung ia berjalan memasuki gang satu ke gang lainnya di sudut suatu kota hendak mencari hati yang hilang tersebut. Dengan langkah gontai dia bersya’ir sendu,

Ya Rabb,
dimanakah hatiku?
kemanakah hati yang dulu singgah menenteramkan jiwaku?
kemana ia pergi setelah durhaka kulakukan?
kemana hendak aku cari?
sungguh hati itu lebih aku butuhkan dari sekedar makan dan minum
Ya Rabb, pertemukan aku dengannya…

Nyaris ia putus asa hingga sesampainya di sebuah gang, ahli ibadah tersebut mendengar suara kegaduhan dari dalam suatu rumah. Ternyata ada seorang ibu sedang memarahi anak perempuannya yang masih kecil. “Wahai anak durhaka! Celakalah kamu, ibumu ini sudah kehabisan akal menghadapi anak pembangkang macam kamu, enyahlah dari rumahku!!” hardik sang ibu sambil membanting pintu sekeras-kerasnya. Ahli ibadah melihat mereka dengan seksama dari kejauhan. Read more

Written by herr

14 Februari 2008 at 8:27 am

Ditulis dalam Kisah, Renungan

Ditandai dengan , ,

Surat Ibu kepada Putranya

with 4 comments

Assalamu’alaikum,

Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amin…

Wahai anakku,

Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka…

Wahai anakku!

Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak! Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas ini lalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati dan telah engkau robek pula perasaanku. Baca selanjutnya…

Written by herr

9 Februari 2008 at 3:03 pm

Ditulis dalam Kisah

Ditandai dengan , , , ,

Hikmah Diam pada Saat yang Tepat

with 9 comments

Dikisahkan bahwa ada seorang lelaki miskin yang mencari nafkahnya hanya dengan mengumpulkan kayu bakar lalu menjualnya di pasar. Hasil yang ia dapatkan hanya cukup untuk makan. Bahkan, kadang-kadang tak mencukupi kebutuhannya. Tetapi, ia terkenal sebagai orang yang sabar.

Pada suatu hari, seperti biasanya dia pergi ke hutan untuk mengumpulkan kayu bakar. Setelah cukup lama dia berhasil mengumpulkan sepikul besar kayu bakar. Ia lalu memikulnya di pundaknya sambil berjalan menuju pasar. Setibanya di pasar ternyata orang-orang sangat ramai dan agak berdesakan. Karena khawatir orang-orang akan terkena ujung kayu yang agak runcing, ia lalu berteriak, “Minggir… minggir! kayu bakar mau lewat!.” Orang-orang pada minggir memberinya jalan dan agar mereka tidak terkena ujung kayu.

Sementara, ia terus berteriak mengingatkan orang. Tiba-tiba lewat seorang bangsawan kaya raya di hadapannya tanpa mempedulikan peringatannya. Kontan saja ia kaget sehingga tak sempat menghindarinya. Akibatnya, ujung kayu bakarnya itu tersangkut di baju bangsawan itu dan merobeknya. Bangsawan itu langsung marah-marah kepadanya, dan tak menghiraukan keadaan si penjual kayu bakar itu. Tak puas dengan itu, ia kemudian menyeret lelaki itu ke hadapan hakim. Ia ingin menuntut ganti rugi atas kerusakan bajunya. Lanjut…

Written by herr

12 Januari 2008 at 2:41 pm

Ditulis dalam Kisah

Ditandai dengan , ,