Archive for the ‘Ceritakoe’ Category
Perjalanan: Wanita Itu…
Hari Kamis 9 Oktober pukul 10.30 tepat kereta yang dinanti-nanti akhirnya datang juga. Kereta yang akan membawa saya kembali ke Yogyakarta setelah liburan panjang di kampung halaman. Cirebon, itulah kampung halaman saya. Kota di mana saya dilahirkan, dibesarkan dan disekolahkan hingga seperti sekarang ini. Kota yang mendadak terkenal hanya pada saat menjelang lebaran dan beberapa hari setelahnya. Sejumlah stasiun televisi seakan berlomba tak mau kalah menyiarkan kejadian langsung situasi dan kondisi terkini arus lalu lintas di sana. Tak peduli dengan seringai udara panasnya.
Seharusnya kereta tiba satu jam yang lalu. Ah, terlambat adalah kata yang sudah tidak tabu lagi bagi saya dan mungkin para penumpang yang lain. Jadi teringat anekdot klasik tentang keterlambatan kereta ini. Ada calon penumpang yang kesal karena setiap kereta yang akan dia tumpangi selalu terlambat. Lalu dia protes ke masinis, “Kalau keretanya terlambat terus mendingan Anda tidak usah kasih jadwal keberangkatan karena tidak ada gunanya!”. Dengan santai sang masinis menjawab, “Pak, kalau nggak ada jadwal kedatangan kereta bagaimana kita tahu bahwa keretanya datang terlambat?”. Ada cerita lainnya. Penumpang di stasiun sedang dibuat gundah gulana. Bagaimana tidak, kereta sering datang terlambat satu jam, dua jam, bahkan sampai lima jam. Tapi pada suatu hari kereta yang akan mereka tumpangi ternyata datangnya tepat sesuai dengan jadwal. Sontak penumpang pada kegirangan. Ketika ditanyakan kepada masinis kok tumben tepat waktu, sang masinis berkata sambil malu-malu, “Maaf, ini kereta kemarin”. Itulah salah satu potret kelam dunia perkeretaapian Indonesia.
Fakta
Postingan ini bukan ngebahas tentang blog Fakta yang itu tu. Tapi cuma sedikit memaparkan fakta tentang diri saya dalam rangka memenuhi permintaan mas Bayu di sini. Kalau mau tahu maksud postingan ini lebih baik baca dulu di blognya. Dipikir-pikir sah-sah saja kita tahu sifat dan karakter orang lain sepanjang bisa mempererat silaturahmi dan bukan jadi ajang olok-olokan. Ada asyiknya juga bisa tahu sifat orang lain. Oooo ternyata dia gitu toh, kok sifatnya sama kayak saya, dan sebagainya. Tapi jangan pernah sekalipun membeberkan sifat dan karakter yang bisa merendahkan diri kita sendiri. Malu-maulin, bisa-bisa malah dijauhi.
Retest Personality Test
Penasaran sama hasil tes psikologi di http://www.mypersonality.info, kok hasilnya ISFJ (the defender) ya? Maunya sih INTP (engineer), biar sesuai dengan bidang
. Makanya sekarang saya kepingin nyoba tes lagi, barangkali hasilnya beda. Nah, di bawah ini hasil tes pertama sekitar bulan Januari 2008.
Dan ternyata sekarang hasilnya adalah…
Keripik Salak
Sudah pernah makan keripik salak? Mungkin tidak banyak orang pernah menyicipi keripik yang satu ini karena biasanya singkong atau kentang yang sering dibuat keripik. Kalau begitu pertanyaannya saya turunkan. Apakah Anda sudah pernah melihat keripik salak? He..he..he.. kalau belum lihat saja gambar di bawah ini.

Hmmm, apa cara menggoreng keripik salak sama dengan cara menggoreng keripik-keripik yang lain (keripik singkong dkk)? Jelas beda. Buahnya berbeda dari segi tingkat kadar airnya. Singkong dan kentang memiliki tingkat kadar air yang relatif lebih kecil dibandingkan buah salak. Sehingga diperlukan perlakuan khusus agar salak pondoh yang digoreng menjadi kering sempurna seperti keripik-keripik yang lain, tidak sekedar menggoreng cara konvensional. Kalau nggak, ditunggu sampai kiamat pun nggak akan kering
Ganti Kostum
Kisah Mas Kartono dan Mbak Kartini
Al kisah, ada seorang lelaki bernama mas Kartono (bukan nama sebenarnya, red) sang penjual roti keliling. Roti yang ia jual bukan roti buatannya tapi buatan pabrik. Dia hanya menitipkan sejumlah roti dalam satu wadah ke tempat-tempat seperti wisma/kos, warung dan warnet. Satu wadah kira-kira ada 15 biji roti. Dia lakoni tiap harinya dengan bersepeda motor tanpa mengenal lelah.
Pendapatannya tidak lah seberapa. Dari satu roti, ia hanya mendapatkan keuntungan Rp. 200 saja. Bila dikalikan jumlah roti dalam satu wadah mungkin bisa mencapai Rp. 3000. Itu kalau terjual semua. Kadang uang yang ia peroleh tidak sesuai dengan sisa roti yang dikembalikan. Pernah dikatakan padanya, “Mas, uangnya kurang. Mungkin ada yang ngutang dulu bayarnya nanti atau bisa jadi marongaji (mangan loro ngakune siji)”. Dengan tawadhu’ dia menjawab, “Oh nggak papa mas, mungkin rejeki saya ada di tempat lain”. Yah, memang bisnis seperti itu banyak resikonya. Bisnis yang mengandalkan kepercayaan orang lain (baca: khusnudzan) bukan kepercayaan orang lain terhadap kita. Hanya sedikit yang bisa bertahan, salah satunya mas Kartono. Mas Kartono… mas Kartono, orang kayak ente jarang ada di kolong langit ini.
Plentonk
Untuk kali pertamanya saya nulis postingan langsung di warnet, tadinya mau buka situs apa saya sendiri juga bingung, jadi ah mending nulis sesuatu buat nambah-nambah postingan blog. Biasanya saya ngetik dulu di komputer sendiri pake notepad, tapi sekarang saya mencoba biar terbiasa menulis dengan cepat. Apa yang ada di kepala langsung tak ketik, makanya hasilnya ya begini saja alias nggak jelas. But it’s no problem.
Oh iya kenalin nih nama warnetnya Plentonk baru launching awal-awal Februari lalu. Dari tanggal 6 – 15 Februari sejamnya cuma 1500 rupiah. Maklum lagi promosi. Setelah itu sejam jadi 2400 rupiah, yah lumayan murah buat warnet yang letaknya di pemukiman mahasiswa, apalagi PCnya baru and monitornya flat lagi. Udah gitu tempatnya bagus plus ada lampion-lampionnya juga. Kalau situ tinggal di sekitar Pogung Dalangan Yogyakarta, warnet ini bisa dijajal. Saya nulis ini nggak dibayar lho, saya cuma sekedar ngasih referensi aja kok.
Plentonk artinya apa sih? Di desktop monitor tertulis arti Plentonk, ‘Plentonk tuh artinya bola pijar, orang sekarang tuh sudah lupa plentonk dan pada lebih seneng pake neon tapi jaman dulu jaman listrik awalan plentonk adalah teman belajar yang mbantu kita jadi sedikit lebih pintar’. Ide penamaan warnetnya boleh juga, memang internet bisa bikin pinter. Tapi perasaan baru kali ini denger nama plentonk, apa benar artinya gitu ya?
Cerita Surveyor
Sudah lama nggak jalan-jalan ke mall, hari sabtu kemarin saya ke mall. He he he bukan mejeng lho, kan rata-rata tujuan utama orang ke mall itu nomor satunya untuk cuci mata, klo belanja mah nomor sekian. Saya ke mall dalam rangka survey kendaraan di tempat parkirnya untuk penelitian skripsi teman saya, tepatnya di mall Ambarukmo Plaza Yogyakarta yang katanya mall terbesar dan terlengkap di Jawa Tengah. Mall ini memang besar, bisa dilihat dari tempat parkirnya yang bisa menampung seribu lebih mobil. Jumlah lantai parkirnya pun mencapai 10 lantai ditambah 2 lantai basement.
Saya kebagian menghitung jumlah mobil yang masuk ke tempat parkir sekaligus mencatat nomor polisi (nopol) dan waktu masuknya. Ada hal yang menarik dari nopol yang saya catat:
• Plat terbanyak adalah AB (ya iya lah) kemudian B, AD dan AA. Sisanya dibagi rata.
• Banyak kendaraan yang memakai angka 8888 (mirip nomor fren), misalnya AB 8888 TS, B 8888 KB, DST
• Menggunakan kombinasi angka tengah yg diulang, misalnya 8668, 7997, 1001, DST
• Memakai nama pemilik mobil, misalnya B 460 ES, AB 35 TI (terlalu dipaksakan), DST
• Gak pake nopol, eh gak ding. Klo ada berarti itu mobil hasil curian.
Wah, surveynya benar-benar bikin capek. Lha wong surveynya mulai dari jam 10 pagi sampai jam 10 malam kok, gimana gak bikin badan pegel-pegel. Tapi gak papa nanti kan dapat honor
.
Berwisata di Pasar Berjalan
Siapa yang belum pernah naik kereta? Bukan kereta mini atau kereta dorong, tapi kereta api betulan. Mungkin setiap orang sudah pernah menaikinya, kecuali daerah-daerah di Indonesia yang tidak terlayani jalur kereta api seperti sebagian Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Bagi anda yang ingin bepergian keluar kota namun dana untuk biaya transport terbatas, kereta ekonomi bisa jadi alternatif. Disamping harga tiket yang murah, naik kereta ekonomi bisa menjadi tempat wisata yang bagi sebagian orang belum menyadarinya.
Biasanya kalau naik kereta api, kita disuguhi pemandangan -pemandangan indah ala pedesaan seperti gunung, perbukitan, sawah, sungai dan danau. Tapi bukan wisata itu yang dimaksud karena rata-rata kereta ekonomi hanya beroperasi di malam hari, jadi jangan harap bisa lihat pemandangan -pemandangan indah selama perjalanan. Lalu apa dong? Jawabannya adalah wisata kuliner dan belanja. Ya, di satu sisi banyaknya para pedagang yang bebas masuk ke kereta membuat suasana di dalam gerbong menjadi semrawut, di sisi lain kita dapat bertransaksi dengannya dan menikmati suguhan yang mereka tawarkan. Baca entri selengkapnya »
Kapan Lulus?
Setiap orang memiliki suatu pertanyaan yang tidak ingin dijawab –kalau dijawab pun itu dengan terpaksa- karena dia sendiri sudah kadung phobi dengan pertanyaan tersebut. Seperti bujang lapuk yang sudah lama tidak dapat-dapat jodoh, alergi dengan pertanyaan: kapan nikah? Begitu pula dengan saya, enek rasanya kalau ada yang nanya: kapan lulus? Ha..ha..ha..mau jadi mahasiswa abadi ya bozz. Gitu ya, seneng kalau ada temen yang sedang menderita begini. Sorry bozz, peace.. Baca entri selengkapnya »







