h e r r

Kisah Mas Kartono dan Mbak Kartini

Ditulis dalam Ceritakoe, Opini by herr di/pada April 21st, 2008

Al kisah, ada seorang lelaki bernama mas Kartono (bukan nama sebenarnya, red) sang penjual roti keliling. Roti yang ia jual bukan roti buatannya tapi buatan pabrik. Dia hanya menitipkan sejumlah roti dalam satu wadah ke tempat-tempat seperti wisma/kos, warung dan warnet. Satu wadah kira-kira ada 15 biji roti. Dia lakoni tiap harinya dengan bersepeda motor tanpa mengenal lelah.

Pendapatannya tidak lah seberapa. Dari satu roti, ia hanya mendapatkan keuntungan Rp. 200 saja. Bila dikalikan jumlah roti dalam satu wadah mungkin bisa mencapai Rp. 3000. Itu kalau terjual semua. Kadang uang yang ia peroleh tidak sesuai dengan sisa roti yang dikembalikan. Pernah dikatakan padanya, “Mas, uangnya kurang. Mungkin ada yang ngutang dulu bayarnya nanti atau bisa jadi marongaji (mangan loro ngakune siji)”. Dengan tawadhu’ dia menjawab, “Oh nggak papa mas, mungkin rejeki saya ada di tempat lain”. Yah, memang bisnis seperti itu banyak resikonya. Bisnis yang mengandalkan kepercayaan orang lain (baca: khusnudzan) bukan kepercayaan orang lain terhadap kita. Hanya sedikit yang bisa bertahan, salah satunya mas Kartono. Mas Kartono… mas Kartono, orang kayak ente jarang ada di kolong langit ini.

Ketika adzan telah berkumandang tanpa ragu ia bergegas menuju masjid terdekat. Pakaian yang ia kenakan saat bekerja ia ganti dengan gamis. Ia paham bahwa rejeki ada yang mengatur. Allah Ta’ala Sang Pemberi Rejeki. Yang ia lakukan hanya dua, berusaha dan berdo’a. Berusaha sebagai wujud melaksanakan sebab dan berdo’a sebagai wujud tawakal kepada Allah. Itulah ciri mukmin sejati dalam mengaplikasikan bentuk keimanan kepadaNya.

Sementara itu, istrinya, mbak Kartini terlihat sibuk mengurus keperluan rumah tangga seperti memasak, mencuci dan memandikan anak. Di saat kebanyakan wanita seperti dirinya keluar rumah menyalahi kodrat kewanitaannya, ia tetap teguh sekokoh karang diterpa ombak. Jika rasa malas hinggap dalam dirinya, segera ia membayangkan pahala yang akan ia peroleh kelak dan selalu memikirkan keadaaan suaminya yang sedang mencari nafkah untuk menghidupi keluarga kecilnya. Dua point tersebut yang menjadi pelecut semangatnya.

Mereka mempunyai cita-cita yang luhur. Hidup bahagia di dunia dan lebih-lebih di akherat adalah tujuan yang selalu mereka impikan. Membina dan menghasilkan keturunan shaleh adalah investasi bekal mereka untuk menghadapi kehidupan yang sesungguhnya. Adakah yang ingin menjadi mas Kartono dan mbak Kartini berikutnya?

Ditandai sebagai:, , , ,

18 Responses to 'Kisah Mas Kartono dan Mbak Kartini'

Subscribe to comments with RSS or LacakBalik to 'Kisah Mas Kartono dan Mbak Kartini'.

  1. hyorinmaru said, on April 21st, 2008 at 9:22 pm

    Hahaha… inspiratif mas, as I expected from u :mrgreen:

    Mas Herr potensial jadi “the next mas kartono”; so, yg saya gak tau adlh “mbak kartini”-nya ;-)

    May Allah be always with u… :-)

  2. desmeli said, on April 22nd, 2008 at 10:32 am

    sangat menginspiratif mas, semoga banyak the next kartini-kartini berikutnya..salah satunya saya…Insya Allah.

  3. herr said, on April 22nd, 2008 at 12:38 pm

    @hyorinmaru
    “mbak kartininya” tinggal dicari aja tho mas…
    klo mental kita dah kayak mas kartono, insya Allah cepet dapetnya, iya kan mas? :mrgreen:

    @desmeli
    maksudnya mbak kartini yang istrinya mas kartono kan? bukan yang simbah kartini.
    klo gitu amiin… :)

  4. alid abdul said, on April 22nd, 2008 at 12:54 pm

    eh mbak kartini juga nama samaran???
    siapa juga yang mw hidup susah,,, kita hidup ini utk mengejar kebahagian… sukuri aja yang kita dapat sekarang….

  5. hyorinmaru said, on April 22nd, 2008 at 1:07 pm

    @ mas Herr:
    Itu tuh, “the next mbak kartini (insya Allah)” muncul; setelah saya ituh… :mrgreen:

    Hm, amiin mas… :-)

  6. herr said, on April 22nd, 2008 at 1:42 pm

    @alid abdul
    iya betul mas, kita hidup di dunia untuk bahagia dengan cara beribadah kepadaNya saja.

    @hyorinmaru
    wah mas beneran nih?? :shock: oh yang mana toh?

  7. hyorinmaru said, on April 22nd, 2008 at 2:58 pm

    Haiyyah..
    Ituh mas, the 2nd commentator ;-)

    Btw, WP mulai lagi deh, koment saya kna blokir td di bbrp blognya orang.. pdhal ga ada link ga ada apa…

  8. hyorinmaru said, on April 22nd, 2008 at 2:58 pm

    Lha, yg dsini malah ok… :shock:

  9. oliveoile said, on April 22nd, 2008 at 4:32 pm

    Cerita Kartininya…
    The same of my dream 8)

  10. hyorinmaru said, on April 22nd, 2008 at 7:50 pm

    Wow… :mrgreen:
    Satu lagi “the next mbak Kartini”… above me :cool:

  11. Sadat ar Rayyan said, on April 25th, 2008 at 5:18 pm

    kisah yang sama, sering terjadi di kostku :D

  12. andityo said, on April 28th, 2008 at 3:54 pm

    Kalo mau jadi kartono,ambil formulir dimana mas??

  13. indra1082 said, on April 29th, 2008 at 1:55 pm

    Kartono dan Kartini itu kakak beradik atau suami istri????

  14. herr said, on April 29th, 2008 at 2:16 pm

    @andityo
    di KPUD mas :mrgreen:

    @indra1082
    suami istri mbak mas

  15. ryanis said, on April 30th, 2008 at 12:09 am

    Tapi, jangan selamanya berkeinginan hidup demikian donk… Buatlah impian untuk hidup lebih baik. Sehingga bisa hidup lebih bahagia lagi di dunia dan juga akhirat.

  16. herr said, on April 30th, 2008 at 9:48 am

    @ryanis
    yg jadi tolak ukur adalah hidup bahagia mbak, keadaan hidup sekarang tidak berpengaruh banyak terhadap kebahagiaan mereka. kaya mereka bersyukur, miskin mereka bersabar. alangkah indahnya…

  17. ryanis said, on Mei 1st, 2008 at 11:40 am

    Iya juga sih… Apalagi sebenarnya kebahagiaan itu gak perlu dicari. Kebahagiaan itu sebenarnya ada di di dalam diri. Dapat dari bacaan, lupa dimana.

  18. eshape said, on Mei 4th, 2008 at 1:59 pm

    Tulisan yang menarik, terbukti dengan banyaknya komentar yang masuk dan memberikan apresiasi.

    Selamat terus menulis mas.

    Salam

    eshape
    http://eshape.blogspot.com/

Leave a Reply