Yogyakarta, Kota Sejuta Motor
Pukul 20.30 malam jalan Kaliurang, saya menyusuri jalan itu dengan bersepeda. Suasananya sangat ramai dengan mahasiswa yang hendak mencari sesuap nasi (makan malam -pen). Lalu lintasnya sedang padat-padatnya, jadi susah kalau mau nyebrang di jalan Kaliurang.
Saat mengayuh, tiba-tiba seseorang bersepeda menyapa dari belakang. Hanya berupa sapaan ringan: “Ayo mas…”. Singkat namun berkesan karena ternyata yang menyapa bukanlah teman atau tetangga saya di kampung, melainkan orang barat alias bule. Entah dia itu turis atau bule nyasar, yang jelas setelah itu saya sadar kalau kami berdua satu-satunya eh dua-duanya yang bersepeda di antara raungan kendaraan bermotor yang berseliweran melintasi jalan Kaliurang pada malam itu.
Apa yang membuat si bule menyapa saya ya? Apakah karena kasihan melihat saya menaiki sepeda yang butut? Apa karena ada teman bersepeda? Atau ngajak balapan? Jelas saya yang kalah lha wong dia pake sepeda gunung yang apik kok. Jadi, apapun motifnya, saya mencoba mengambil kesimpulan sebuah fakta bahwa lalu lintas di kota Yogyakarta sudah didominasi oleh kendaraan bermotor terutama sepeda motor.
Berapa sih jumlah motor di Yogyakarta? Sejuta? Dua juta? Saya sendiri belum pernah menghitungnya, yang pasti sebanding dengan jumlah mahasiswa yang kuliah di universitas-universitas baik negeri maupun swasta yang ada di Yogyakarta karena rata-rata mahasiswa punya sepeda motor sendiri untuk menunjang studinya (klo saya ndak punya
). Itu baru kalangan mahasiswa belum lagi dari kalangan pelajar, karyawan dan warga asli Yogyakarta.
Padahal lebih enak naik sepeda, uang lebih hemat, badan jadi kuat dan sehat. Sekarang sepeda sudah ditinggalkan, padahal dulu sepeda pernah menjadi primadona, bahkan Yogyakarta disebut sebagai kota sepeda karena saking banyaknya masyarakat yang memakai kendaraan roda dua anti polusi ini. Tapi sebutan itu kini tinggal kenangan.





Si Bule mungkin memberi semangat mas, biar lebih cepat ngayuh sepedanya
Waktu masih kul di yogya, teman-teman ada beberapa pake sepeda. Saya sering pinjam buat belanja. Asyik ding
oliveoile
22 Desember 2007 at 8:28 am
Mungkin gitu ya mbak, ya berarti bener ngajak balapan
Besepeda memang asyik…
*menghibur diri*
herr
22 Desember 2007 at 9:54 am
Aduh, jadi kangen Jogja. Hiks…
hyorinmaru
22 Desember 2007 at 9:23 pm
jogja memang kota sejuta motor. tapi sekarang udah ada transjogja… *ngaco*
Bagindo
21 April 2008 at 11:20 am
Betul!!
Setuju…
Yogya udah gak nyaman lagi buat naik sepeda…
Memang kota motor..
(Emang, sih… paling enak pergi-pergi pake motor gak naik sepeda kayak jaman dulu)
hadiyan yusuf
6 Juni 2008 at 5:06 pm